Sabtu, 11 Juli 2009

aku bgt????????????

D'Masiv - Jangan Menyerah

Tak ada manusia
Yang
terlahir sempurna
Jangan kau sesali
Segala yang telah terjadi

Kita pasti pernah
Dapatkan cobaan yang berat
Seakan hidup ini
Tak ada artinya lagi

Reff #1:
Syukuri apa yang ada
Hidup adalah anugerah
Tetap jalani hidup ini
Melakukan yang terbaik

Tak ada manusia
Yang
terlahir sempurna
Jangan kau sesali
Segala yang telah terjadi

Kembali ke Reff #1

Reff #2:
Tuhan pasti kan menunjukkan
Kebesaran dan kuasanya
Bagi hambanya yang sabar
Dan
tak kenal putus asa

heal the world

There’s a place in your heart
And I know that it is love
And this place could be much
Brighter than tomorrow.
And if you really try
You’ll find there’s no need to cry
In this place you’ll feel
There’s no hurt or sorrow.
There are ways to get there
If you care enough for the living
Make a little space, make a better place.

Chorus:
Heal the world
Make it a better place
For you and for me and the entire human race
There are people dying
If you care enough for the living
Make a better place for
You and for me.

If you want to know why
There’s a love that cannot lie
Love is strong
It only cares for joyful giving.
If we try we shall see
In this bliss we cannot feel
Fear or dread
We stop existing and start living
Then it feels that always
Love’s enough for us growing
Make a better world, make a better world.

Chorus:
Heal the world
Make it a better place
For you and for me and the entire human race.
There are people dying
If you care enough for the living
Make a better place for
You and for me.

Bridge:
And the dream we would conceived in
Will reveal a joyful face
And the world we once believed in
Will shine again in grace
Then why do we keep strangling life
Wound this earth, crucify it’s soul
Though it’s plain to see, this world is heavenly
Be God’s glow.

We could fly so high
Let our spirits never die
In my heart I feel
You are all my brothers
Create a world with no fear
Together we’ll cry happy tears
See the nations turn
Their swords into plowshares
We could really get there
If you cared enough for the living
Make a little space to make a better place.

Chorus:
Heal the world
Make it a better place
For you and for me and the entire human race
There are people dying
If you care enough for the living
Make a better place for
You and for me.

Selasa, 05 Mei 2009

friendship

persahabatan..............

Kelahiran Nabi SAW

Usia Abd’l-Muttalib sudah hampir mencapai tujuhpuluh tahun atau lebih tatkala Abrahah mencoba menyerang Mekah dan menghancurkan Rumah Purba. Ketika itu umur Abdullah anaknya sudah duapuluh empat tahun, dan sudah tiba masanya dikawinkan. Pilihan Abd’l-Muttalib jatuh kepada Aminah bint Wahb bin Abd Manaf bin Zuhra, - pemimpin suku Zuhra ketika itu yang sesuai pula usianya dan mempunyai kedudukan terhormat.

Pada hari perkawinan Abdullah dengan Aminah itu, Abd’l-Muttalib juga kawin dengan Hala, puteri pamannya. Dari perkawinan ini lahirlah Hamzah, paman Nabi dan yang seusia dengan dia. Abdullah dengan Aminah tinggal selama tiga hari di rumah Aminah, sesuai dengan adat kebiasaan Arab bila perkawinan dilangsungkan di rumah keluarga pengantin puteri. Sesudah itu mereka pindah bersama-sama ke keluarga Abd’l-Muttalib.

Beberapa saat setelah perkawinan, Abdullahpun pergi dalam suatu usaha perdagangan ke Suria dengan meninggalkan isteri yang dalam keadaan hamil. Dalam perjalanannya itu Abdullah tinggal selama beberapa bulan. Dalam pada itu ia pergi juga ke Gaza dan kembali lagi. Kemudian ia singgah ke tempat saudara-saudara ibunya di Medinah sekadar beristirahat sesudah merasa letih selama dalam perjalanan. Sesudah itu ia akan kembali pulang dengan kafilah ke Mekah. Akan tetapi kemudian ia menderita sakit di tempat saudara-saudara ibunya itu. Kawan-kawannyapun pulang lebih dulu meninggalkan dia.

Abd’l-Muttalibmengutus Harith - anaknya yang sulung - ke Medinah, supaya membawa kembali bila ia sudah sembuh. Tetapi sesampainya di Medinah ia mengetahui bahwa Abdullah sudah meninggal dan sudah dikuburkan pula, sebulan sesudah kafilahnya berangkat ke Mekah. Kembalilah Harith kepada keluarganya dengan membawa perasaan pilu atas kematian adiknya itu. Rasa duka dan sedih menimpa hati Abd’l-Muttalib, menimpa hati Aminah, karena ia kehilangan seorang suami yang selama ini menjadi harapan kebahagiaan hidupnya.Peninggalan Abdullah sesudah wafat terdiri dari lima ekor unta, sekelompok ternak kambing dan seorang budak perempuan, yaitu Umm Ayman - yang kemudian menjadi pengasuh Nabi. Boleh jadi peninggalan serupa itu bukan berarti suatu tanda kekayaan; tapi tidak juga merupakan suatu kemiskinan.

Aminah melahirkan beberapa bulan kemudian. Selesai bersalin dikirimnya berita kepada Abd’l Muttalib di Ka’bah, bahwa ia melahirkan seorang anak laki-laki. Alangkah gembiranya orang tua itu setelah menerima berita. Sekaligus ia teringat kepada Abdullah anaknya. Gembira sekali hatinya karena ternyata pengganti anaknya sudah ada. Cepat-cepat ia menemui menantunya itu, diangkatnya bayi itu lalu dibawanya ke Ka’bah. Ia diberi nama Muhammad. Nama ini tidak umum di kalangan orang Arab tapi cukup dikenal.

Mengenai tahun ketika Muhammad dilahirkan, beberapa ahli berlainan pendapat. Sebagian besar mengatakan pada Tahun Gajah (570 Masehi). Ibn Abbas mengatakan ia dilahirkan pada Tahun Gajah pada tanggal duabelas Rabiul Awal. Ini adalah pendapat Ibn Ishaq dan yang lain. Pada hari ketujuh kelahirannya itu Abd’l-Muttalib minta disembelihkan unta. Hal ini kemudian dilakukan dengan mengundang makan masyarakat Quraisy. Setelah mereka mengetahui bahwa anak itu diberi nama Muhammad, mereka bertanya-tanya mengapa ia tidak suka memakai nama nenek moyang. “Kuinginkan dia akan menjadi orang yang Terpuji,1 bagi Tuhan di langit dan bagi makhlukNya di bumi,” jawab Abd’l Muttalib.

Masa Kecil Nabi SAW

Sudah menjadi kebiasaan bangsawan-bangsawan Arab di Mekah bahwa anak yang baru lahir disusukan kepadakepada salah seorang Keluarga Sa’d. Sementara masih menunggu orang yang akan menyusukan itu Aminah menyerahkan anaknya kepada Thuwaiba, budak perempuan pamannya, Abu Lahab. Selama beberapa waktu ia disusukan, seperti Hamzah yang juga kemudian disusukannya. Jadi mereka adalah saudara susuan. Thuwaiba hanya beberapa hari saja menyusukan.

Akhirnya datang juga wanita-wanita Keluarga Sa’d yang akan menyusukan itu ke Mekah. Mereka memang mencari bayi yang akan mereka susukan. Akan tetapi mereka menghindari anak-anak yatim, karena mereka mengharapkan upah yang lebih. Sedang dari anak-anak yatim sedikit sekali yang dapat mereka harapkan. Oleh karena itu di antara mereka itu tak ada yang mau mendatangi Muhammad. Salah seorang dari mereka, Halimah bint Abi-Dhua’ib, ternyata tidak mendapat bayi lain sebagai gantinya. Setelah mereka akan meninggalkan Mekah, Halimah memutuskan untuk mengambil Muhammad. Dia bercerita, bahwa sejak diambilnya anak itu ia merasa mendapat berkah. Ternak kambingnya gemuk-gemuk dan susunyapun bertambah. Tuhan telah memberkati semua yang ada padanya. Selama dua tahun Muhammad tinggal di sahara, disusukan oleh Halimah dan diasuh oleh Syaima’, puterinya. Udara sahara dan kehidupan pedalaman yang kasar menyebabkannya cepat sekali menjadi besar, dan menambah indah bentuk dan pertumbuhan badannya.

Setelah cukup dua tahun dan tiba masanya disapih, Halimah membawa anak itu kepada ibunya dan sesudah itu membawanya kembali ke pedalaman. Hal ini dilakukan karena kehendak ibunya, kata sebuah keterangan, dan keterangan lain mengatakan karena kehendak Halimah sendiri. Ia dibawa kembali supaya lebih matang, juga memang dikuatirkan dari adanya serangan wabah Mekah. Dua tahun lagi anak itu tinggal di sahara, menikmati udara pedalaman yang jernih dan bebas, tidak terikat oleh sesuatu ikatan jiwa, juga tidak oleh ikatan materi.

Pada masa itu, sebelum usianya mencapai tiga tahun, ketika itulah terjadi cerita yang banyak dikisahkan orang. Yakni, bahwa sementara ia dengan saudaranya yang sebaya sesama anak-anak itu sedang berada di belakang rumah di luar pengawasan keluarganya, tiba-tiba anak yang dari Keluarga Sa’d itu kembali pulang sambil berlari, dan berkata kepada ibu-bapanya: “Saudaraku yang dari Quraisy itu telah diambil oleh dua orang laki-laki berbaju putih. Dia dibaringkan, perutnya dibedah, sambil di balik-balikan.” Dan tentang Halimah ini ada juga diceritakan, bahwa mengenai diri dan suaminya ia berkata: “Lalu saya pergi dengan ayahnya ke tempat itu. Kami jumpai dia sedang berdiri. Mukanya pucat-pasi. Kuperhatikan dia. demikian juga ayahnya. Lalu kami tanyakan: “Kenapa kau, nak?” Dia menjawab: “Aku didatangi oleh dua orang laki-laki berpakaian putih. Aku di baringkan, lalu perutku di bedah. Mereka mencari sesuatu di dalamnya. Tak tahu aku apa yang mereka cari.”

Keluarga itu kemudian ketakutan, kalau-kalau terjadi sesuatu pada anak itu. Sesudah itu, dibawanya anak itu kembali kepada ibunya di Mekah. Atas peristiwa ini Ibn Ishaq membawa sebuah Hadis Nabi sesudah kenabiannya. Dalam riwayat yang diceritakan Ibn Ishaq, dikatakan bahwa sebab dikembalikannya kepada ibunya bukan karena cerita adanya dua malaikat itu, melainkan ada beberapa orang Nasrani Abisinia memperhatikan Muhammad dan menanyakan kepada Halimah tentang anak itu. Dilihatnya belakang anak itu, lalu mereka berkata: “Biarlah kami bawa anak ini kepada raja kami di negeri kami. Anak ini akan menjadi orang penting. Kamilah yang mengetahui keadaannya.” Halimah lalu cepat-cepat menghindarkan diri dari mereka dengan membawa anak itu.

Lima tahun masa yang ditempuhnya itu telah memberikan kenangan yang indah sekali dan kekal dalam jiwanya. Demikian juga Ibu Halimah dan keluarganya tempat dia menumpahkan rasa kasih sayang dan hormat selama hidupnya itu. Penduduk daerah itu pernah mengalami suatu masa paceklik sesudah perkawinan Muhammad dengan Khadijah. Bilamana Halimah kemudian mengunjunginya, sepulangnya ia dibekali dengan harta Khadijah berupa unta yang dimuati air dan empat puluh ekor kambing. Dan setiap dia datang dibentangkannya pakaiannya yang paling berharga untuk tempat duduk Ibu Halimah sebagai tanda penghormatan. Ketika Syaima, puterinya berada di bawah tawanan bersama-sama pihak Hawazin setelah Ta’if dikepung, kemudian dibawa kepada Muhammad, ia segera mengenalnya. Ia dihormati dan dikembalikan kepada keluarganya sesuai dengan keinginan wanita itu.

Kemudian Abd’l-Muttalib yang bertindak mengasuh cucunya itu. Ia memeliharanya sungguh-sungguh dan mencurahkan segala kasih-sayangnya kepada cucu ini. Biasanya buat orang tua itu - pemimpin seluruh Quraisy dan pemimpin Mekah - diletakkannya hamparan tempat dia duduk di bawah naungan Ka’bah, dan anak-anaknya lalu duduk pula sekeliling hamparan itu sebagai penghormatan kepada orang tua. Tetapi apabila Muhammad yang datang maka didudukkannya ia di sampingnya diatas hamparan itu sambil ia mengelus-ngelus punggungnya. Melihat betapa besarnya rasa cintanya itu paman-paman Muhammad tidak mau membiarkannya di belakang dari tempat mereka duduk itu.

Kematian Ibunda

Ketika Nabi berusia 6 tahun, Aminah membawanya ke Medinah untuk diperkenalkan kepada saudara-saudara kakeknya dari pihak Keluarga Najjar. Dalam perjalanan itu dibawanya juga Umm Aiman, budak perempuan yang ditinggalkan ayahnya dulu. Sesampai mereka di Medinah kepada anak itu diperlihatkan rumah tempat ayahnya meninggal dulu serta tempat ia dikuburkan. Itu adalah yang pertama kali ia merasakan sebagai anak yatim. Dan barangkali juga ibunya pernah menceritakan dengan panjang lebar tentang ayah tercinta itu, yang setelah beberapa waktu tinggal bersama-sama, kemudian meninggal dunia di tengah-tengah pamannya dari pihak ibu.

Sesudah cukup sebulan mereka tinggal di Medinah, Aminah bersama rombongan kembali pulang dengan dua ekor unta yang membawa mereka dari Mekah. Tetapi di tengah perjalanan, ketika mereka sampai di Abwa’,2 ibunda Aminah menderita sakit, yang kemudian meninggal dan dikuburkan pula di tempat itu. Anak itu oleh Umm Aiman dibawa pulang ke Mekah, pulang menangis dengan hati yang pilu, sebatang kara. Ia makin merasa kehilangan; sudah ditakdirkan menjadi anak yatim. Terasa olehnya hidup yang makin sunyi, makin sedih. Baru beberapa hari yang lalu ia mendengar dari Ibunda keluhan duka kehilangan Ayahanda semasa ia masih dalam kandungan. Kini ia melihat sendiri dihadapannya, ibu pergi untuk tidak kembali lagi, seperti ayah dulu. Tubuh yang masih kecil itu kini dibiarkan memikul beban hidup yang berat, sebagai yatim-piatu. Lebih-lebih lagi kecintaan Abd’l-Muttalib kepadanya. Tetapi sungguhpun begitu, kenangan sedih sebagai anak yatim-piatu itu bekasnya masih mendalam sekali dalam jiwanya sehingga di dalam Qur’anpun disebutkan, ketika Allah mengingatkan Nabi akan nikmat yang dianugerahkan kepadanya itu: “Bukankah engkau dalam keadaan yatim-piatu? Lalu diadakanNya orang yang akan melindungimu? Dan menemukan kau kehilangan pedoman, lalu ditunjukkanNya jalan itu?” (Qur’an, 93: 6-7)

Nabi kemudian di bawah asuhan kakeknya, Abd’l-Muttalib. Tetapi orang tua itu juga meninggal tak lama kemudian, dalam usia delapanpuluh tahun, sedang Muhammad waktu itu baru berumur delapan tahun. Sekali lagi Muhammad dirundung kesedihan karena kematian kakeknya itu, seperti yang sudah dialaminya ketika ibunya meninggal. Begitu sedihnya dia, sehingga selalu ia menangis sambil mengantarkan keranda jenazah sampai ketempat peraduan terakhir.

Bersama Abu Talib

Kemudian pengasuhan Muhammad di pegang oleh Abu Talib, sekalipun dia bukan yang tertua di antara saudara-saudaranya. Saudara tertua adalah Harith, tapi dia tidak seberapa mampu. Sebaliknya Abbas yang mampu, tapi dia kikir sekali dengan hartanya. Oleh karena itu ia hanya memegang urusan siqaya (pengairan) tanpa mengurus rifada (makanan). Sekalipun dalam kemiskinannya itu, tapi Abu Talib mempunyai perasaan paling halus dan terhormat di kalangan Quraisy. Dan tidak pula mengherankan kalau Abd’l-Muttalib menyerahkan asuhan Muhammad kemudian kepada Abu Talib. Abu Talib mencintai kemenakannya itu sama seperti Abd’l-Muttalib juga. Karena kecintaannya itu ia mendahulukan kemenakan daripada anak-anaknya sendiri. Budi pekerti Muhammad yang luhur, cerdas, suka berbakti dan baik hati, itulah yang lebih menarik hati pamannya.

Perjalanan Pertama Ke Syam

Ketika usia Nabi baru duabelas tahun, ia turut dalam rombongan kafilah dagang bersama Abu Talib ke negeri Syam. Diceritakan, bahwa dalam perjalanan inilah ia bertemu dengan rahib Bahira, dan bahwa rahib itu telah melihat tanda-tanda kenabian padanya sesuai dengan petunjuk cerita-cerita Kristen. Rahib itu menasehatkan keluarganya supaya jangan terlampau dalam memasuki daerah Syam, sebab dikuatirkan orang-orang Yahudi yang mengetahui tanda-tanda itu akan berbuat jahat terhadap dia.

Dalam perjalanan itulah, Nabiyullah mendapat pengalaman dan wawasan yang berguna. Beliau dapat melihat luasnya padang pasir, menatap bintang-bintang yang berkilauan di langit yang jernih cemerlang. Dilaluinya daerah-daerah Madyan, Wadit’l-Qura serta peninggalan bangunan-bangunan Thamud. Didengarnya dsegala cerita orang-orang Arab dan penduduk pedalaman tentang bangunan-bangunan itu, tentang sejarahnya masa lampau. Dalam perjalanan ke daerah Syam ini ia berhenti di kebun-kebun yang lebat dengan buab-buahan yang sudah masak, yang akan membuat ia lupa akan kebun-kebun di Ta’if serta segala cerita orang tentang itu. Taman-taman yang dilihatnya dibandingkannya dengan dataran pasir yang gersang dan gunung-gunung tandus di sekeliling Mekah itu. Di Syam Muhammad mengetahui berita-berita tentang Kerajaan Rumawi dan agama Kristennya, didengarnya berita tentang Kitab Suci mereka serta oposisi Persia dari penyembah api terhadap mereka dan persiapannya menghadapi perang dengan Persia. Sekalipun usianya baru dua belas tahun, tapi dia sudah mempunyai persiapan kebesaran jiwa, kecerdasan otak, tinjauan yang begitu dalam, ingatan yang cukup kuat, serta segala sifat-sifat semacam itu yang diberikan Allah kepadanya sebagai suatu persiapan akan menerima risalah (misi) maha besar yang sedang menantinya. Ia melihat ke sekeliling, dengan sikap menyelidiki, meneliti. Ia tidak puas terhadap segala yang didengar dan dilihatnya. Ia bertanya kepada diri sendiri: Di manakah kebenaran dari semua itu?

Masa Remaja Nabi SAW

Muhammad yang tinggal dengan pamannya, menerima apa adanya. Ia melakukan pekerjaan yang biasa dikerjakan oleh mereka yang seusia dia. Bila tiba bulan-bulan suci, kadang ia tinggal di Mekah dengan keluarga, kadang pergi bersama mereka ke pekan-pekan yang berdekatan dengan ‘Ukaz, Majanna dan Dhu’l-Majaz, mendengarkan sajak-sajak yang dibawakan oleh penyair-penyair Mudhahhabat dan Mu’allaqat, yang melukiskan lagu cinta dan puisi-puisi kebanggaan, melukiskan nenek moyang mereka, peperangan mereka, kemurahan hati dan jasa-jasa mereka. Didengarnya ahli-ahli pidato di antaranya orang-orang Yahudi dan Nasrani yang membenci paganisma Arab. Mereka bicara tentang Kitab-kitab Suci Isa dan Musa, dan mengajak kepada kebenaran menurut keyakinan mereka. Dinilainya semua itu dengan hati nuraninya, dilihatnya ini lebih baik daripada paganisma yang telah menghanyutkan keluarganya itu. Tetapi tidak sepenuhnya ia merasa lega.

Dengan demikian sejak muda-belia takdir telah mengantarkannya ke jurusan yang akan membawanya ke suatu saat bersejarah, saat mula pertama datangnya wahyu, tatkala Tuhan memerintahkan ia menyampaikan risalahNya itu. Yakni risalah kebenaran dan petunjuk bagi seluruh umat manusia. Kalau Muhammad sudah mengenal seluk-beluk jalan padang pasir dengan pamannya Abu Talib, sudah mendengar para penyair, ahli-ahli pidato membacakan sajak-sajak dan pidato-pidato dengan keluarganya dulu di pekan sekitar Mekah selama bulan-bulan suci, maka ia juga telah mengenal arti memanggul senjata, ketika ia mendampingi paman-pamannya dalam Perang Fijar.

Perang Fijar

Perang Fijar bermula dari peristiwa pembunuhan yang dilakukan oleh Barradz bin Qais dari kabilah Kinana kepada ‘Urwa ar-Rahhal bin ‘Utba dari kabilah Hawazin pada bulan suci yang sebenarnya dilarang untuk berperang. Seorang pedagang, Nu’man bin’l-Mundhir, setiap tahun mengirimkan sebuah kafilah dari Hira ke ‘Ukaz, tidak jauh dari ‘Arafat. Barradz menginginkan membawa kafilah itu ke bawah pengawasan kabilah Kinana. Demikian juga ‘Urwa menginginkan mengiringi kafilah itu. Nu’man memilih ‘Urwa (Hawazin), dan hal ini menimbulkan kejengkelan Barradz (Kinana). Ia kemudian mengikutinya dari belakang, lalu membunuhnya dan mengambil kabilah itu. Maka terjadilah perang antara mereka itu. Perang ini hanya beberapa hari saja setiap tahun, tetapi berlangsung selama empat tahun terus-menerus dan berakhir dengan suatu perdamaian model pedalaman, yaitu yang menderita korban manusia lebih kecil harus membayar ganti sebanyak jumlah kelebihan korban itu kepada pihak lain. Maka dengan demikian Quraisy telah membayar kompensasi sebanyak duapuluh orang Hawazin. Perang fijar ini terjadi ketika Nabi berusia antara limabelas tahun sampai duapuluh tahun.

Beberapa tahun sesudah kenabiannya Rasulullah menyebutkan tentang Perang Fijar itu dengan berkata: “Aku mengikutinya bersama dengan paman-pamanku, juga ikut melemparkan panah dalam perang itu; sebab aku tidak suka kalau tidak juga aku ikut melaksanakan.”

Perang Fijar itu berlangsung hanya beberapa hari saja tiap tahun. Sedang selebihnya masyarakat Arab kembali ke pekerjaannya masing-masing. Pahit-getirnya peperangan yang tergores dalam hati mereka tidak akan menghalangi mereka dari kegiatan perdagangan, menjalankan riba, minum minuman keras serta pelbagai macam kesenangan dan hiburan sepuas-puasnya

Akan tetapi Nabi telah menjauhi semua itu, dan sejarah cukup menjadi saksi. Yang terang ia menjauhi itu bukan karena tidak mampu mencapainya. Mereka yang tinggal di pinggiran Mekah, yang tidak mempunyai mata pencarian, hidup dalam kemiskinan dan kekurangan, ikut hanyut juga dalam hiburan itu. Jiwa besarnya yang selalu mendambakan kesempurnaan, itu lah yang menyebabkan dia menjauhi foya-foya, yang biasa menjadi sasaran utama pemduduk Mekah. Ia mendambakan cahaya hidup yang akan lahir dalam segala manifestasi kehidupan, dan yang akan dicapainya hanya dengan dasar kebenaran. Kenyataan ini dibuktikan oleh julukan yang diberikan orang kepadanya dan bawaan yang ada dalam dirinya. Itu sebabnya, sejak masa ia kanak-kanak gejala kesempurnaan, kedewasaan dan kejujuran hati sudah tampak, sehingga penduduk Mekah semua memanggilnya Al-Amin (artinya ‘yang dapat dipercaya’).

Yang menyebabkan dia lebih banyak merenung dan berpikir, ialah pekerjaannya menggembalakan kambing sejak dalam masa mudanya itu. Dia menggembalakan kambing keluarganya dan kambing penduduk Mekah. Dengan rasa gembira ia menyebutkan saat-saat yang dialaminya pada waktu menggembala itu. Di antaranya ia berkata: “Nabi-nabi yang diutus Allah itu gembala kambing.” Dan katanya lagi: “Musa diutus, dia gembala kambing, Daud diutus, dia gembala kambing, aku diutus, juga gembala kambing keluargaku di Ajyad.” Gembala kambing yang berhati terang itu, dalam udara yang bebas lepas di siang hari, dalam kemilau bintang bila malam sudah bertahta, menemukan suatu tempat yang serasi untuk pemikiran dan permenungannya.

Pemikiran dan permenungan demikian membuat ia jauh dari segala pemikiran nafsu manusia duniawi. Ia berada lebih tinggi dari itu sehingga adanya hidup palsu yang sia-sia akan tampak jelas di hadapannya. Oleh karena itu, dalam perbuatan dan tingkah-lakunya Muhammad terhindar dari segala penodaan nama yang sudah diberikan kepadanya oleh penduduk Mekah, dan memang begitu adanya: Al-Amin. Pada suatu hari ia ingin bermain-main seperti pemuda-pemuda lain. Hal ini dikatakannya kepada kawannya pada suatu senja, bahwa ia ingin turun ke Mekah, bermain-main seperti para pemuda di gelap malam, dan dimintanya kawannya menjagakan kambing ternaknya itu. Tetapi Allah SWT selalu melindunginya, sesampainya di ujung Mekah, perhatiannya tertarik pada suatu pesta perkawinan dan dia hadir di tempat itu. Tetapi tiba-tiba ia tertidur. Pada malam berikutnya datang lagi ia ke Mekah, dengan maksud yang sama. Terdengar olehnya irama musik yang indah, seolah turun dari langit. Ia duduk mendengarkan. Lalu tertidur lagi sampai pagi.

Kenikmatan yang dirasakan Muhammad sejak masa pertumbuhannya yang mula-mula yang telah diperlihatkan dunia sejak masa mudanya adalah kenangan yang selalu hidup dalam jiwanya, yang mengajak orang hidup tidak hanya mementingkan dunia. Ini dimulai sejak kematian ayahnya ketika ia masih dalam kandungan, kemudian kematian ibunya, kemudian kematian kakeknya. Kenikmatan demikian ini tidak memerlukan harta kekayaan yang besar, tetapi memerlukan suatu kekayaan jiwa yang kuat. sehingga orang dapat mengetahui: bagaimana ia memelihara diri dan menyesuaikannya dengan kehidupan batin.

Pernikahan Dengan Khadijah ra

Ketika Nabi itu berumur duapuluh lima tahun. Abu Talib mendengar bahwa Khadijah sedang menyiapkan perdagangan yang akan dibawa dengan kafilah ke Syam. Abu Talib lalu menghubungi Khadijah untuk mengupah Muhammad untuk menjalankan perdagangannya. Khadijah setuju dengan upah empat ekor unta. Setelah mendapat nasehat paman-pamannya Muhammad pergi dengan Maisara, budak Khadijah. Dengan mengambil jalan padang pasir kafilah itupun berangkat menuju Syam, dengan melalui Wadi’l-Qura, Madyan dan Diar Thamud serta daerah-daerah yang dulu pernah dilalui Muhammad dengan pamannya Abu Talib.

Dengan kejujuran dan kemampuannya ternyata Muhammad mampu benar memperdagangkan barang-barang Khadijah, dengan cara perdagangan yang lebih banyak menguntungkan daripada yang dilakukan orang lain sebelumnya. Demikian juga dengan karakter yang manis dan perasaannya yang luhur ia dapat menarik kecintaan dan penghormatan Maisara kepadanya. Setelah tiba waktunya mereka akan kembali, mereka membeli segala barang dagangan dari Syam yang kira-kira akan disukai oleh Khadijah. Setelah kembali di Mekah, Muhammad bercerita dengan bahasa yang begitu fasih tentang perjalanannya serta laba yang diperolehnya, demikian juga mengenai barang-barang Syam yang dibawanya. Khadijah gembira dan tertarik sekali mendengarkan. sesudah itu, Maisara bercerita juga tentang Muhammad, betapa halusnya wataknya, betapa tingginya budi-pekertinya. Hal ini menambah pengetahuan Khadijah di samping yang sudah diketahuinya sebagai pemuda Mekah yang besar jasanya.

Dalam waktu singkat saja kegembiraan Khadijah ini telah berubah menjadi rasa cinta, sehingga dia - yang sudah berusia empatpuluh tahun, dan yang sebelum itu telah menolak lamaran pemuka-pemuka dan pembesar-pembesar Quraisy - tertarik juga hatinya mengawini pemuda ini, yang tutur kata dan pandangan matanya telah menembusi kalbunya. Pernah ia membicarakan hal itu kepada saudaranya yang perempuan - kata sebuah sumber, atau dengan sahabatnya, Nufaisa bint Mun-ya - kata sumber lain. Nufaisa pergi menjajagi Muhammad seraya berkata: “Kenapa kau tidak mau kawin?” “Aku tidak punya apa-apa sebagai persiapan perkawinan,” jawab Muhammad. “Kalau itu disediakan dan yang melamarmu itu cantik, berharta, terhormat dan memenuhi syarat, tidakkah akan kauterima?” “Siapa itu?” Nufaisa menjawab hanya dengan sepatah kata: “Khadijah.” “Dengan cara bagaimana?” tanya Muhammad. Sebenarnya ia sendiri berkenan kepada Khadijah sekalipun hati kecilnya belum lagi memikirkan soal perkawinan, mengingat Khadijah sudah menolak permintaan hartawan-hartawan dan bangsawan-bangsawan Quraisy. Setelah atas pertanyaan itu Nufaisa mengatakan: “Serahkan hal itu kepadaku,” maka iapun menyatakan persetujuannya.

Tak lama kemudian Khadijah menentukan waktunya yang kelak akan dihadiri oleh paman-paman Muhammad supaya dapat bertemu dengan keluarga Khadijah guna menentukan hari perkawinan. Kemudian perkawinan itu berlangsung dengan diwakili oleh paman Khadijah, Umar bin Asad, sebab Khuwailid ayahnya sudah meninggal sebelum Perang Fijar. Di sinilah dimulainya lembaran baru dalam kehidupan Muhammad. Dimulainya kehidupan itu sebagai suami-isteri dan ibu-bapa, suami-isten yang harmonis dan sedap dari kedua belah pihak, dan sebagai ibu-bapa yang telah merasakan pedihnya kehilangan anak sebagaimana pernah dialami Muhammad yang telah kehilangan ibu-bapa semasa ia masih kecil.

Sabtu, 02 Mei 2009

MIPA ku...........

Profil jurusan MIPA UNSOED

Program Sarjana MIPA Universitas Jenderal Soedirman merupakan institusi setingkat Fakultas yang bertugas melaksanakan koordinasi jurusan Matematika, Kimia dan Fisika. Program Studi Matematika dan Kimia didirikan berdasarkan SK Dirjen Dikti Nomor 245/DIKTI/KEP/1999 dan Program Studi Fisika berdasarkan SK Dirjen Dikti Nomor 1012/D/T/ 2002 tahun 2002.

Kerberadaan Jurusan Matematika, Kimia dan Fisika sangat diperlukan dalam mendukung perkembangan Ilmu pengetahuan dan Teknologi serta mendukung dan memberikan layanan kepada Fakultas eksakta di lingkungan UNSOED. Keberadaan Program Studi Matematika, Kimia dan Fisika sejalan dengan kebijakan pemerintah yang tertuang dalam KPP-JP tahun 1996 – 2005 untuk mencapai perbandingan Program Studi Eksakta : Program Studi Non Eksakta adalah 65 : 35

Sejak didirikan pada tahun 1999 sampai akhir tahun 2005 staf edukatif Program Sarjana MIPA Unsoed berjumlah 64 orang. Dari 64 staf edukatif tersebut, 13 orang (20,3%) S1, 44 orang (75 %) S2 dan 3 orang ( 4,7 %) S3. Berdasarkan jenjang jabatannya, 43 orang (6 %) staf adalah Asisten Ahli, 18 orang (28 %) Lektor, 1 orang (1,5 %) Lektor Kepala, dan 1 orang (1,5%) Guru Besar. Jika dilihat dari sebaran umurnya, 97 % staf termasuk dalam kategori usia produktif (25-50 tahun). Perbandingan antara staf edukatif dan mahasiswa sebesar 1: 17 yang menunjukkan suatu rasio yang mendekati ideal dari rasio staf edukatif:mahasiswa eksakta sebesar 1:15. Sedangkan jika dilihat bidang keahliannya memiliki sebaran 13 bidang keahlian.

Dua orang dari staf Administrasi tersebut sudah pernah mengikuti pendidikan Administrasi (ADUM) sehingga sudah dapat menduduki jabatan struktural sebagi kabag/ kasubag. Staf Administrasi/Teknisi saat ini sudah menjalankan fungsi administrasi untuk penyelenggaraan Program Studi Kimia dan Matematika dan pelayanan di Jurusan Fisika. Program Sarjana MIPA saat ini sudah mempunyai sarana dan prasarana, yaitu gedung berlantai II seluas 4.875,24 m2 terdiri atas : ruang kuliah, laboratorium, ruang baca, ruang rapat, perpustakaan, kantor administrasi dan ruang untuk penyimpanan alat bantu ajar. Untuk mendukung kelancaran program pendidikan, penelitian dan pengabdian pada masyarakat telah dilakukan pengembangan laboratorium diantaranya di bawah Jurusan Kimia adalah Laboratorium Kimia Dasar, Kimia Fisik, Biokimia, Anorganik, Organik, Analitik dan. di bawah Jurusan Matematika dikembangkan Laboratorium Komputer. Di Jurusan Fisika dikembangkan Laboratorium Fisika dasar, Elektronika, Komputasi, Eksperimen I dan Eksperimen II. Untuk memperkuat pengelolaan masing-masing laboratorium tersebut kepala laboratorium mendapat SK Rektor.

Di samping pengembangan laboratorium telah dilakukan upaya untuk menambah sarana prasarana, diantaranya melalui kompetisi proyek Due Project., A1 dan Sp4. Hasilnya adalah diterimanya dana untuk manambah sarana prasarana melalui peralatan praktikum, riset dan peralatan pendukung akademik. Penambahan peralatan praktikum telah meningkatkan efisiensi dan produktivitas sehingga mampu mengurangi rasio penggunaan alat oleh mahasiswa dari ratio 1:6 menjadi 1:3, sedangkan penambahan peralataan riset telah mampu mempercepat kelulusan mahasiswa.

Untuk meningkatkan akademik atmosfer mahasiswa dan dosen terus dilakukan upaya perencanaan penambahan fasilitas lain seperti penambahan meja kursi, penyekatan ruang dosen, penambahan ruang parkir, sarana olah raga dan Student acces yang merupakan sarana bagi mahasiswa untuk mendapatkan bahan bahan tugas akhir melalui internet dan sekaligus sebagai ruangan untuk mengetikan tugas akhir, hingga akhir Juli 2006 Program Sarjana MIPA telah meluluskan 236 Mahasiswa dengan 3 orang dipesan sebelum lulus. Sisanya telah bekerja di berbagai bidang seperti lembaga penelitian, pendidikan, industri, farmasi, konsultan asing, perbankan dan pertambangan.

Guna meningkatkan kinerja Program Sarjana MIPA telah dikembangkan Sistem Informasi melalui pemasangan jaringan internet dan intranet. Teknologi informasi tersebut nantinya dapat digunakan untuk meningkatkan efisiensi kerja dan pemasaran produk Program Sarjana MIPA baik lulusan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Adanya jaringan tersebut akan digunakan sebagai pengembangan sistem informasi akademik sehingga dosen maupun mahasiswa dapat mengakses informasi yang terkait dengan kegiatan proses pembelajaran.

FASILITAS PENUNJANG KULIAHTujuan perkuliahan akan dapat dicapai secara efektif apabila digunakan berbagai metode pembelajaran yang tepat. Untuk menerapkannya diperlukan fasilitas penunjang yang memadai.

Saat ini Program Sarjana MIPA memiliki 4 ruang kuliah, 12 Laboratorium. Seluruh laboratorium telah memiliki peralatan dasar yang memadai dan telah dimanfaatkan secara optimal, baik untuk pengajaran maupun penelitian, meskipun demikian peningkatan kualitas dan kuantitas alat tersebut harus selalu dilakukan. Perincian laboratorium adalah sebagai berikut.

1) Laboratorium Fisika Dasar

2) Laboratorium Elektronika

3) Laboratorium Komputasi

4) Laboratorium Eksperimen I

5) Laboratorium Eksperimen II

6) Laboratorium Komputer

7) Laboratorium Kimia Dasar

8) Laboratorium Kimia Organik

9) Laboratorium Kimia An organik

10) Laboratorium Kimia Fisik

11) Laboratorium Biokimia

12) Laboratorium Kimia Analitik

Fasilitas penunjang perkuliahan lainnya adalah:

  • Overhead Projector
  • Direct Projector
  • LCD Projector

Tersedia pula perpustaan yang berisi :

  • Buku ajar (textbook)
  • Jurnal, baik cetak maupun elektronik
  • Laporan hasil penelitian

Serta ruang akses komputer bagi mahasiswa yang sudah terkoneksi Internet.

1.jpg

VISI

Pada tahun 2013 Fakultas MIPA sudah mampu bersaing pada tingkat nasional dan internasional dalam mengembangkan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam serta penerapannya pada teknologi dan seni.

MISI

  1. Menyelenggarakan program studi S1 dan S2 Matematika, Fisika dan Kimia yang berkualitas sehingga dihasilkan lulusan yang memiliki kemampuan berfikir logis dan analitis, kreatif dan inovatif, mampu bekerja secara mandiri maupun bekerjasama dan dijiwai akhlak dan budi pekerti yang luhur sehingga mampu beradaptasi dan berkompetisi di lapangan kerja serta berhasil dalam karier.
  2. Menyelenggarakan penelitian unggulan di bidang Matematika, Fisika dan Kimia yang menunjang pendidikan dan IPTEKS.
  3. Menerapkan ilmu dan hasil-hasil penelitian untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

TUJUAN PENDIDIKAN

  1. Menghasilkan lulusan sarjana S1 Matematika, Fisika dan Kimia yang memiliki kemampuan untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi dan mudah terserap dalam pasar kerja.
  2. Menghasilkan produk penelitian yang meliputi publikasi, hak paten dan tercipta atmosfir akademik yang kondusif.
  3. Meningkatkan layanan Fakultas MIPA kepada masyarakat berupa konsultasi, kerjasama riset dan pemecahan masalah dalam masyarakat

obat hati

Obat Penyakit Hati

May 15, 2008

editor : yoedha pamungkas @ 5:33 pm | Menata Hati |

obat hati
Kikir dan serakah, obati dengan zakat

Bagi orang kebanyakan seperti kita, akan mengalami kesulitan ketika berusaha memahami perlikau konglomerat yang tida ada henti-hentinya mengumpulkan kekayaan, bahkan dengan cara-cara yang tidak halal. Kita mengalami kesulitan untuk memahaminya karena ssesungguhnya kekayaan mereka sudah diluar batas kebutuhan maksimalnya. Dalam kalkulasi manusiawi, kekayaan yang telah dikuasainya tak akan pernah bisa dihabiskan, bahkan oleh tujuh turunannya.
Dalam kaitan ini kita bertanya-tanya, kenapa pada saat berbisnis mereka sangat konsisten menerapkan prinsip-prinsip ekonomi, sementara pada saat yang lain mereka berprilaku sangat tidak ekonomis?

Kesibukan mereka mengumpulkan harta kekayaan telah melalaikannya. Seolah-olah mereka mabuk. Mereka tak sadar untuk apa mereka banting tulang, peras keringat, dan mengrutkan dahi untuk berfikir, sementara harta mereka sudah melimpah. Mereka bekerja sekedar untuk bekerja. Seluruh waktunya habis untuk bekerja, seolah-olah ia diciptakan hanya untuk mengumpulkan harta benda. Perilaku mereka telah direkam secara baik dalam AlQuran: “Bermegah-megaha telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui akibat perbuatanmu itu, dan janganlah begitu kelak kamu akan mengetahui.” (Attakatsur : 1-4)

Kecenderungan dari orang kaya adalah sifatnya yang kikir. Lebih baik ia menyimpan kekayaannya daripada digunakan untuk membantu sesama. Semua harta yang dikeluarkannya harus memberi tambahan keuntungan. Jika harus menolong orang, maka pertolongan itu harus dikompensasi dengan keuntungan lain. Prinspnya tidak ada pemberian gratis di dunia ini. Bagi orang kikir, lebih baik memberli lukisan dengan harga yang sangat mahal daripada disumbangkan kepada fakir miskin. Atau dibelikan barang-barang antik. Koleksi lukisan dan barang-barang antiknya menumpuk di gudang , kadang tak sempat disentuh atau dilihatnya sama sekali. Jika demikian apa untungnya menyimpan lukisan dan barang-barang antik itu?

Dibalik perilaku mereka yang serakah dan kikir itu, ada dorongan yang kuat pada dirinya untuk bisa menjadi orang penting. Dengan kekayaannya yang melimpah, mereka mengira dapat menundukkan orang lain. Bukankah semua dapat dibereskan dengan uang? Begitulah kira-kira jalan pikirannya. Dengan uangnya ia menjadi sangat berkuasa. Dengan uangnya pula ia menjadi orang penting. Orang yang dibutuhkan.

Nafsu berkuasa itu selalu selalu ada dan tumbuh pada diri manusia. Setiap orang mempunyai keinginan untuk dilayani. Perintahnya dipatuhi dan kata-katanya didengar. Ketika seseorang merasa perintahnya dipatuhi orang dan kata-katanya didengar, maka kepuasan batinnya terpenuhi. Sebaliknya ia merasa sunyi. Hidup terasa tidak berarti.

Sesungguhnya, kegemaran orang kaya mengejar kekayaan yang lebih banyak lagi, banyak yang ditentukan oleh kebutuhan batin. Mereka berharap agar orang lain merasa butuh padanya, yang karenanya dipentingkan atau dijadikan orang penting. Mereka berharap orang lain tunduk pada perintahnya, yang karenanya mereka merasa menjadi berkuasa.

Jika demikian kenyataannya, maka sesungguhnya membayar zakat, infaq dan shadaqah itu merupakan tuntutan dan kebutuhan setiap manusia. Inilah solusi dan jalan keluar yang disiapkan oleh Allah. Siapa bilang zakat itu beban, sebab bagi mereka yang sadar, sesungguhnya zakat dan shadaqah itu merupakan rekreasi bagi orang-orang yang mampu. Dengan demikian, maka sesungguhnya orang kaya itu mempunyai kebutuhan untuk mengeluarkan zakatnya, sedangkan orang miskin butuh untuk menerimanya. Itulah yang menjadikan hidup menjadi harmonis dan berkah.

Sabtu, 18 April 2009

10 Langkah Bertahan Pas Patah Hati

Kata om Meggi Z, patah hati tuh lebih sakit daripada sakit gigi (aduh, jadul banget seeh!). Tapi yang bener: patah hati tuh lebih sakit daripada nggak patah hati! (He…he…he…, ya iya lah!) Makanya biar nggak sakit-sakit amat, kita mesti bertahan dan ngelupain dia. Caranya?

1. Simpan kenangan2 indahmu
Simpan semua benda yang pernah dia kasih atau punya memori indah waktu masih berdua! Dikarungin, trus taruh di tempat yang selama ini paling “haram” kita jamah. Biar hati kita nggak tergerak buat liat-liat tuh barang-barang lagi! Kalo perlu, dihibahin ke orang aja.

2. Jangan teringat masa lalu
Buat sementara waktu jangan dulu deh pergi ke tempat-tempat pacaran favorit kita berdua waktu masih akur dulu. Lha, kalo barang-barang udah dijauhin, tapi kita tetap main-main ke tempat ini, jadi bernostalgila lagi dong?


3.Lakuin hal-hal yang selama ini dia larang kita lakuin
Misalnya, kalo selama ini kita terpaksa selalu motong pendek rambut karena dia nggak suka cowok gondrong, sekarang panjangin aja. Mau tuh rambut kutuan kek, ketombean kek, sebodo amat!

4.Lakuin hal-hal seru yang paling bisa bikin kita girang
Chatting, main PS, atau main bola sama anak-anak kampung? Terserah! Yang penting ekita happy.

5. Tambah frekuensi nongkrong bareng temen-temen!
biasanya temen tuh lebih tulus daripada pacar. Dan biasanya lagi, temen juga lebih banyak nyenenginnya daripada nyusahinnya. Makanya di saat-saat kritis kayak gini asiknya makin deket sama temen-temen.

6. Jangan menyendiri!
Ngapain sih berkurung di kamar atau pergi sorangan ke gunung dan pantai? Udah kayak anak ilang aja! Hari gini ngilangin patah hati kok pake cara remaja tahun 70-an! Sekarang udah 2004 gitu lho. Pergi dong ke mal, ke cafe, tempat bilyar, atau warung gaul.

7. Jangan curhat sama temen
Emang bener katanya nyeritain unek-unek ke sobat tuh bisa ngurangin beban. Tapi coba deh kita bayangin, kalo kita curhat abis-abisan dengan seluruh perasaan, bukannya malah bisa kebawa emosi ya? Jadi makin susah lupa deh sama dia. So, kalo mulut tetap gatel pengen curhat, seadanya aja ya.

8. Bikin sibuk diri
Man, bayangan mantan tuh paling sering nongol kalo kita lagi bengong. Makanya biar nggak bengong ekita mesti banyak bergerak. Ngebengkel bisa. Lari-lari keliling kompleks sambil ngecengin tetangga boleh. Atau kalo mau yang pake pahala, jadi asisten pribadi nyokap aja. He…he…he….

9. Nulis! Basi ya?
Tapi efeknya lumayan dahsyat lho! Waktu kita nulis cerita, puisi, atau nulis lirik lagu, biasanya perasaan nggak enak yang ngeganjel ikutan keluar tuh. Lha, kalo nggak bisa ngarang, bikin puisi, dan bikin lagu? Ya asal nulis aja, nulis apa lah! (Deeu…maksa sih!)

10. Terakhir
sering-sering jalan ke sarang cewek-cewek! He…he…he…. Dandan dengan style paling oke menurut kita, trus pasang sikap cool (es batu kali, ah!). Yah, siapa tau aja ada yang nyantol. Kalo nggak, lumayan kan buat cuci mata dan bikin seger badan doang sih!

Global warming

From Wikipedia, the free encyclopedia

Jump to: navigation, search
Global mean surface temperature anomaly relative to 1961–1990
Global mean surface temperature anomaly relative to 1961–1990
Mean surface temperature anomalies during the period 1999 to 2008 with respect to the average temperatures from 1940 to 1980
Mean surface temperature anomalies during the period 1999 to 2008 with respect to the average temperatures from 1940 to 1980

Global warming is the increase in the average temperature of the Earth's near-surface air and oceans since the mid-twentieth century and its projected continuation. Global surface temperature increased 0.74 ± 0.18 °C (1.33 ± 0.32 °F) during the last century.[1][A] The Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) concludes that anthropogenic greenhouse gases are responsible for most of the observed temperature increase since the middle of the twentieth century,[1] and that natural phenomena such as solar variation and volcanoes probably had a small warming effect from pre-industrial times to 1950 and a small cooling effect afterward.[2][3] These basic conclusions have been endorsed by more than 40 scientific societies and academies of science,[B] including all of the national academies of science of the major industrialized countries.[4][5]

Climate model projections summarized in the latest IPCC report indicate that global surface temperature will probably rise a further 1.1 to 6.4 °C (2.0 to 11.5 °F) during the twenty-first century.[1] The uncertainty in this estimate arises from the use of models with differing climate sensitivity, and the use of differing estimates of future greenhouse gas emissions. Some other uncertainties include how warming and related changes will vary from region to region around the globe. Most studies focus on the period up to 2100. However, warming is expected to continue beyond 2100, even if emissions stop, because of the large heat capacity of the oceans and the long lifetime of carbon dioxide in the atmosphere.[6][7]

Increasing global temperature will cause sea levels to rise and will change the amount and pattern of precipitation, probably including expansion of subtropical deserts.[8] The continuing retreat of glaciers, permafrost and sea ice is expected, with the Arctic region being particularly affected. Other likely effects include shrinkage of the Amazon rainforest and Boreal forests, increases in the intensity of extreme weather events, species extinctions and changes in agricultural yields.

Political and public debate continues regarding the appropriate response to global warming. The available options are mitigation to reduce further emissions; adaptation to reduce the damage caused by warming; and, more speculatively, geoengineering to reverse global warming. Most national governments have signed and ratified the Kyoto Protocol aimed at reducing greenhouse gas emissions.


Selasa, 07 April 2009

oh........ternyata!!!!!!!!!!!!!!!


Himpunan Mahasiswa kimia yang dibentuk pada 18 Mei 7 tahun yang lalu..oh sungguh waktu yang cukup singkat jika dibandingka dengan indonesia tetapi kita menerapkan kebudayaan indonesia disini.kekeluargaan,gotongroyong,saling menghargai dan saling menghormati.
STRUKTUR ORGANISASI HIMAKIM 2009
KETUA : IBNU MUFTI ALI

SEKUM : BACHTIAR NUGROHO A

KESTARI: NOVITA NUR AMANAH & NUR ASIYAH JAMIL
BENDAHARA : RIANI ERMAYANTI & MEGA SULISTYA

BIDANG KEILMUAN & PENALARAN : FERA,ESTI,ADINDA,&NOVAL

BIDANG KESAWA: GHANI,IKA,YUNI,AGUNG&ADIT

BIDANG HUMAS : YUDI,RIAS,EVA&UCI

BIDANG USDA : TIARA,NUNK,RATNA,ARUM&DINDA
BIDANG PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN : FUTYA,ANNISAA,SISI&MAULIDA
DIVISI CHEMNEWS : DANIAR,RULI,SANDI,DINA,TIKA,&PENI
DIVISI MADING : RIA,ANA&IRMA

DIVISI IKAHIMKI : HARYADI,ANTON,SYARAH
SEMANGAT HIMAKIM 2009!!!!!!!!!!!!!!!

Rabu, 01 April 2009

warning buat temen2

akhirnya aku punya blog...bener kata pak nurul cepet cuma 10 menit...temen2 kasih masukan dong aku bingung mau diisi apa blognya???